Home Islam BERSATU BUKAN CITA-CITA TETAPI KEWAJIBAN

BERSATU BUKAN CITA-CITA TETAPI KEWAJIBAN

by ukhuwah.id

Seluruh manusia yang berfikir waras di muka bumi ini secara pasti menyutujui persatuan / kesatuan dan menolak perpecahan baik karena ilmunya sebagaimana diperintahkan oleh Allah dan Rasul Nya, maupun hanya karena berfikir waras. Maka orang kafir pun sependapat mementingkan ummat mereka bersatu atas perintah pemimpin mereka, bahkan mungkin pemimpin setan la’natulloh sekalipun menyerukan agar para setan pun bersatu demi misi yang dibawanya, walaupun ajakannya ke Neraka Jahanam, bahkan group para penjahat pun menghendaki supaya mereka bersatu. Betapa urgennya bersatu itu demi kesuksesan hidup yang dicita-citakan.

Walhasil tidak seorang pemimpin pun didunia yang menghendaki agar ummatnya berpecah belah; sehingga mereka membuat sanksi hukum bagi siapa saja yang menentang kesatuan dengan ancaman penjara.

Khusus bagi ummat Islam (kaum muslimin / muslimat) bersatu dalam satu kesatuan jama’ah telah diwajibkan oleh Allah dan Rasul Nya, sehingga siapapun yang menentangnya dengan berpihak kepada golongan-golongan tertentu yang dikarang-karangnya sendiri telah diancam Neraka karena tidak dapat disatukan sebagaimana dijelaskan Allah dalam QS. Ar Rum ayat 31-32 dan Al-an’am 65 dan banyak lagi di dalam Quran dan Al hadits yang mengancam perpecahan.

Allah SWT berfirman, “Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. (QS. Ar Rum (30) : 31-32).

Allah SWT Berfirman, “Katakanlah, Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”. (QS. Al An’am (06) : 65).

Masih beranikah orang-orang yang mengaku beriman hanya bicara tentang pentingnya kesatuan, sementara mereka sendiri tidak mempraktekkan kesatuan selain hanya menganjurkan layaknya orang-orang yang berdosa besar karena hanya bicara tapi tidak mempraktekkan apa yang di bicarakannya padahal tanpa kendala mengamalkannya. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (QS. Ash Shaf (61) : 2-3).

Ataukah mereka itu tidak mengerti cara bersatu / berjama’ah dalam Islam ? Bukankah Islam telah sempurna? Sampai-sampai masalah remehpun telah diajarkan caranya, seperti tidur, bangun, masuk toilet , makan minum, memakai baju dan banyak lagi masalah-masalah yang tidak diancam dosa pun telah diberitahukan cara mempraktekannya, tanpa bisa dikarang-karang menurut kebijaksanaan kita. Maaf cara masuk toilet pun tidak bisa dikarang sendiri, umpamanya masuk toilet dengan membaca Al-Fatihah atau bangun tidur di karang sendiri caranya dengan baca surat Al Baqarah ataupun lain-lain hasil karangan seseorang menurut maunya sendiri, justru malah salah. Apalagi hal bersatu wajib dan berpecah belah haram, yang sifatnya sangat penting dan fundamental , kok berani-beraninya seseorang mengarang sendiri cara bersatunya, sehingga masing-masing membanggakan golongannya masing-masing, seolah-olah Dinul Islam ini belum lagi sempurna kecuali pada masalah-masalah yang remeh-remeh. Naudzubillah !

Bukankah sudah jelas sekali di zaman nabi Muhammad SAW ummat Islam bersatu dibawah sistem kepemimpinan kenabian dan disebut sistem  An Nubuwwah, dan setelah Rasul SAW wafat kesatuan ummat dipimpin oleh seorang Kholifah dalam sistem Khilafah sehingga ditegaskan oleh beliau SAW Khilafah Ala Min Hajjin Nubuwwah, demikianlah cara bersatu / berjama’ah dalam  Islam. Maka Rasulullah bersabda, “Talzamul Jama’atal muslimina wa imaamahum, takdiruhu talzamul khilafatal muslimin dan Kholifah nya. Karena parah sahabat paham betul masalah ini, maka walaupun mereka menyimpang / zolim, disebut oleh Rasul SAW Mulkan Adhon seterusnya mulkan Jabariyah, tetapi tetap saja mereka mengaku sebagai Kholifah karena hanya dengan sistem khilafah sajalah ummat dapat dipersatukan.

Jangan hanya bicara, mari bersatu, praktekkanlah kesatuan dalam wujud nyata, Allahu Akbar.

Sumber: khilafatulmuslimin.net

You may also like

Leave a Comment