Home 212 Kiblatorial: Generasi 212, Generasi Al-Quran

Kiblatorial: Generasi 212, Generasi Al-Quran

by ukhuwah.id

KIBLAT.NET – 212 di tahun 2020 baru saja berlalu. Kali ini tak ada kumpul-kumpul bersama di Monas seperti tahun-tahun sebelumnya. Pilihan tepat, karena hingga hari ini kita masih dicekam pandemi.

Banyak manfaat lain yang bisa didulang ketika tidak ada aktivitas fisik kolosal dalam memperingatinya. Di antaranya, agar kita lebih fokus untuk merenung dan bermuhasabah.

212 bukan soal bagaimana bisnis berjaya dan kita menjadi kaya. Bukan pula bagaimana kita yang sebelumnya bukan siapa-siapa, menjadi publik figur pemilik ribuan massa.

212 adalah momentum kebersamaan dalam ber-Islam. Diawali dari ghirah yang sama dalam mencintai Al-Quran, disusul dengan kehangatan ukhuwah, baik skala pribadi maupun kelompok.

Beraneka ragam dan warna fenomena yang terjadi pada puncak 212 dan setelahnya, tak bisa mengubah fakta erat keterkaitan 212 dengan Al-Quran.

Jika diibaratkan anak, 212 tidak lahir tanpa sebab kehadiran orang tua bernama Al-Quran. Maka, mengaku kelompok 212 sejatinya adalah ikrar menisbatkan diri dengan Al-Quran.

Tanpa mengait dan mengikatkan diri dengan Al-Quran, 212 dan segala macam turunannya hanya akan menjadi anak durhaka.

Maka, hari ini kita perlu bermuhasabah sejauh mana Al-Quran mewarnai kehidupan kita sehari-hari. Seberapa jauh jiwa-raga kita lekat dengan kitab yang menjadi mukjizat kenabian Muhammad SAW.

Berapapun usia kita, seharusnya tak mengendorkan semangat untuk memperbaiki cara kita membacanya. Tajwid, tahsin dan tahfidz dalam batas kemampuan, harus menjadi agenda sehari-hari.

Kita juga harus berusaha akrab dengan ilmu-ilmu lain yang terkait dengan Al-Quran. Tadabbur kisah-kisah di dalamnya, mengeja makna tafsir maupun mengenali asbabun nuzul, dan lainnya.

Al-Quran juga harus hadir dalam akhlak, pola pikir dan tindakan sehari-hari kita. Nabi Muhammad SAW telah berhasil memberikan contoh terbaik dengan menjadi “Al-Quran berjalan.

Bagaimana kita bergaul dengan sesama manusia, baik sesama muslim maupun lintas agama. Atau bagaimana kita komitmen dalam etika bersosial media, dan ranah interaksi lainnya.

Semua hal di atas, mustahil kita raih tanpa ilmu. Karena Al-Quran tidak dapat dipahami hanya dengan khayalan dan dugaan kita sendiri.

Di sinilah ahli ilmu dan alim ulama mengambil peran penting. Bagaimana mereka bisa membimbing umat ini untuk menjadi umat yang Qurani.

Karena itu, 212 harus menjadi tonggak sejarah untuk memperbanyak kehadiran bintang-bintang yang akan memandu perjalanan umat ini, sekarang dan hari mendatang.

Lembaga kaderisasi dan pendidikan, baik formal maupun non-formal, sudah seharusnya menata ulang komitmen dan upaya mereka. Untuk memastikan setiap SDM yang dilahirkannya, benar-benar generasi Al-Quran.

Kebanggaan kita pada guyubnya jutaan umat Islam di Monas, harus meningkat menjadi kebanggan sebagai bangsa yang mampu melahirkan banyak ahli Al-Quran.

 

Sumber: www.kiblat.net

You may also like

Leave a Comment